Analisis Kesesuaian Spasial Pengembangan PLTS Perkotaan di Kota Bandung Berbasis GIS

04 February 2026

By: Geo Bayu Febriando Dunggio

PLTS

PLTS

Latar Belakang

Pertumbuhan kawasan perkotaan yang pesat mendorong peningkatan kebutuhan energi listrik secara signifikan. Di sisi lain, ketergantungan terhadap sumber energi fosil masih menjadi tantangan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, terutama di wilayah perkotaan dengan keterbatasan ruang dan tekanan lingkungan yang tinggi. Kondisi ini menuntut pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dapat diimplementasikan secara efektif dan sesuai dengan karakteristik wilayah perkotaan.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan salah satu bentuk pemanfaatan EBT yang relatif sesuai dikembangkan di kawasan perkotaan, khususnya melalui pemanfaatan ruang terbangun seperti atap bangunan. Namun, keterbatasan lahan, variasi kondisi topografi, serta perbedaan karakteristik penggunaan lahan menyebabkan tidak semua wilayah perkotaan memiliki tingkat kesesuaian yang sama untuk pengembangan PLTS. Oleh karena itu, diperlukan analisis awal untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang secara spasial lebih sesuai untuk pengembangan PLTS perkotaan.

Pendekatan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) memungkinkan integrasi berbagai parameter fisik dan spasial wilayah, seperti tutupan lahan dan kondisi topografi, guna mengevaluasi tingkat kesesuaian lokasi pengembangan PLTS secara sistematis. Analisis ini berperan penting sebagai tahap awal perencanaan, khususnya dalam menentukan zona prioritas pengembangan PLTS di kawasan perkotaan.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian spasial pengembangan PLTS perkotaan di Kota Bandung menggunakan pendekatan GIS. Hasil penelitian diharapkan dapat menghasilkan peta kesesuaian spasial yang bersifat indikatif sebagai dasar awal perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengembangan PLTS perkotaan di Kota Bandung.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. 1.
    Mengidentifikasi dan memetakan karakteristik spasial wilayah perkotaan di Kota Bandung yang berpotensi sesuai untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
  1. 2.
    Menganalisis tingkat kesesuaian spasial pengembangan PLTS perkotaan di Kota Bandung berdasarkan parameter fisik wilayah, meliputi kondisi topografi (kemiringan lereng) dan tutupan lahan.
  1. 3.
    Menghasilkan peta kesesuaian spasial pengembangan PLTS perkotaan yang bersifat indikatif sebagai dasar awal perencanaan pengembangan energi terbarukan di Kota Bandung.
  1. 4.
    Memberikan gambaran distribusi spasial zona kesesuaian pengembangan PLTS perkotaan pada tingkat wilayah administratif di Kota Bandung sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan.

Metode Penelitian

1

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk mengidentifikasi potensi energi surya perkotaan di Kota Bandung. Data yang digunakan meliputi Digital Elevation Model (DEM) SRTM dengan resolusi spasial 30 meter, data tutupan lahan, serta batas administrasi Kota Bandung.

bandung

Tahapan penelitian diawali dengan pengumpulan dan prapemrosesan data secara cloud-based menggunakan Google Earth Engine (GEE). Proses prapemrosesan meliputi pemilihan wilayah studi berdasarkan batas administrasi Kota Bandung, pemotongan (clipping) data raster sesuai area kajian, serta penyamaan sistem koordinat ke sistem WGS84 (EPSG:4326). Pendekatan ini memungkinkan pengolahan data spasial yang efisien dan konsisten tanpa keterbatasan komputasi lokal.

Selanjutnya, data kemiringan lereng yang dihasilkan dari DEM dan data tutupan lahan dioverlay secara spasial untuk menghasilkan peta kesesuaian lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan perkotaan Kota Bandung. Peta hasil analisis divisualisasikan pada lingkungan Google Earth Engine untuk evaluasi spasial, kemudian diekspor dan ditampilkan pada platform GeoMapid untuk keperluan analisis lokasi (location analysis) dan penyajian web map interaktif. Hasil akhir penelitian digunakan sebagai dasar interpretasi spasial dan rekomendasi awal pengembangan energi surya perkotaan di Kota Bandung.

Hasil Lereng

Berdasarkan hasil perhitungan luas wilayah, kelas lereng landai (0–5°) memiliki luasan terbesar, yaitu sekitar 45% dari total wilayah Kota Bandung. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan perkotaan Kota Bandung didominasi oleh topografi yang relatif datar. Kelas lereng sedang (5–15°) mencakup sekitar 37% wilayah, sedangkan lereng curam (>15°) hanya sekitar 18% dan umumnya terkonsentrasi di wilayah perbukitan.

Dominasi lereng landai memberikan potensi yang cukup besar untuk pengembangan PLTS perkotaan, khususnya pada area terbangun seperti atap bangunan, karena kemiringan rendah lebih mendukung instalasi panel surya dari aspek teknis dan keselamatan.

Analis Kemiringan Lereng

klasifikasi kemiringan lereng menunjukkan bahwa wilayah Kota Bandung didominasi oleh lereng landai (0–5°) yang ditampilkan dengan warna hijau. Lereng sedang (5–15°) ditunjukkan dengan warna kuning dan tersebar di wilayah transisi menuju kawasan perbukitan. Sementara itu, lereng curam (>15°) yang ditampilkan dengan warna merah terkonsentrasi di bagian utara Kota Bandung. Distribusi ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki kondisi topografi yang relatif sesuai untuk pengembangan PLTS perkotaan.

Hasil Analisis Tutupan Lahan Kota Bandung

tutupanlahankota

Berdasarkan peta hasil analisis tutupan lahan Kota Bandung, terlihat variasi kelas tutupan lahan yang direpresentasikan melalui perbedaan warna. Warna merah mendominasi hampir seluruh wilayah kajian yang menunjukkan kawasan terbangun (built-up area), seperti permukiman, kawasan komersial, dan infrastruktur perkotaan. Dominasi warna merah ini mencerminkan karakter Kota Bandung sebagai wilayah perkotaan dengan tingkat urbanisasi yang tinggi.

Warna hijau tua yang tersebar terutama di bagian utara Kota Bandung mengindikasikan tutupan vegetasi berupa hutan atau pepohonan, yang umumnya berada di wilayah perbukitan dan kawasan penyangga lingkungan. Keberadaan tutupan vegetasi ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis dan mengurangi dampak lingkungan perkotaan.

Selanjutnya, warna kuning hingga hijau muda merepresentasikan lahan terbuka dan vegetasi rendah, seperti area pertanian, semak, atau ruang terbuka hijau yang tersebar secara terbatas di beberapa bagian kota. Sementara itu, warna biru menunjukkan badan air, seperti sungai dan area perairan, yang terlihat mengikuti pola jaringan hidrografi wilayah Kota Bandung.

Secara keseluruhan, pola sebaran tutupan lahan menunjukkan bahwa Kota Bandung didominasi oleh kawasan terbangun, dengan konsentrasi vegetasi yang lebih besar berada di wilayah utara, sejalan dengan kondisi topografi dan fungsi kawasan lindung di daerah tersebut.

Analisis Kesesuaian Lokasi PLTS

Analisis Kesesuaian Lokasi PLTS

hasil Analisis Kesesuaian Lokasi PLTS Kota Bandung memperlihatkan wilayah kajian yang dibatasi oleh garis biru sebagai batas administrasi Kota Bandung. Area di dalam batas tersebut dianalisis berdasarkan parameter kemiringan lereng dan tutupan lahan untuk menentukan tingkat kesesuaian lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Warna kuning pada peta menunjukkan lokasi yang sesuai untuk PLTS, yaitu wilayah dengan kemiringan lereng relatif landai dan kondisi lahan yang memungkinkan pemasangan panel surya secara optimal.

Sebaliknya, area di dalam batas administrasi yang tidak berwarna kuning menunjukkan lokasi yang kurang sesuai atau tidak sesuai untuk pengembangan PLTS, umumnya disebabkan oleh lereng yang lebih curam, kawasan terbangun padat, atau keterbatasan ruang terbuka. Secara umum, wilayah yang sesuai tersebar cukup luas di dalam Kota Bandung, terutama pada area dengan topografi datar, sehingga memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga surya di wilayah perkotaan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS), Kota Bandung memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) perkotaan. Wilayah Kota Bandung didominasi oleh lereng landai (0–5°) yang secara teknis lebih sesuai untuk pemasangan panel surya, serta didukung oleh dominasi kawasan terbangun yang memungkinkan penerapan PLTS berbasis atap bangunan. Integrasi parameter kemiringan lereng dan tutupan lahan menghasilkan peta kesesuaian lokasi PLTS yang bersifat indikatif, dengan sebaran lokasi sesuai yang cukup luas di dalam batas administrasi Kota Bandung. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan GIS efektif digunakan sebagai dasar awal perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengembangan energi terbarukan berbasis tenaga surya di wilayah perkotaan.

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at